Minggu, 01 Januari 2017

makalah gangguan degestive : hisprung



BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Saluran pencernaan adalah sekumpulan alat-alat tubuh yang berfungsi menerima makanan dan minuman, mencernanya menjadi nutrien, menyerap serta mengeluarkan sisa-sisa proses tersebut. Saluran pencernaan dimulai dari mulut sampai dubur yang panjangnya mencapai kurang lebih 10 meter. Saluran pencernaan mulai dari mulut, gigi, lidah, lambung, usus dampai ke dubur. Sistem pencernaan adalah organ yang seringkali mudah terkena gangguan sehingga timbul berbagai masalah penyakit pencernaan.
Penting bagi perawat untuk mampu menerapkan asuhan keperawatan yang telah di pelajari. Setelah mempelajari bab bab sebelumnya. Maka pembahasan kita kali ini mengenai asuhan keperawatan hirscchprung yang terjadi pada anak. Dari pembahasan ini mahasiswa atau pembaca pada umumnya mendapat gambaran tentang pokok pokok tindakan keperawatan yang diberikan pada penderita hirschprng.
Pada tahun 1888 (herald hirschprung hidup pada tahun 1830-1916), ahli penyakit anak asal Denmark melaporkan dua kasus bayi meninggal dengan perut kembung oleh kolon yang sangat melebar dan penuh massa feses, penyakit ini kemudian dinamakan dengan Hirschsprung. Penyakit ini disebut juga dengan megakolon kongenitum dan merupakan kelainan yang sering ditemukan sebagai salah satu penyebab obstruksi usus pada neonates. pada penyakit Hirschsprung tidak ditemukan pleksus mienterik atau pleksus di lapisan otot dinding usus (plexus myentericus = Auerbach), akibatnya bagian usus yang terkena tidak dapat mengembang.
Setiap anak yang mengalami konstipasi sejak lahir, tanpa mempertimbangkan usia, dapat menderita penyakit Hirschprung. Penyakit ini timbul pada neonates baik sebagai obstruksi usus besar atau timbul kemudian sebagai konstipasi kronik. Penyakit ini sebagaian besar ditemukan pada bayi cukup bulan dan merupakan kelainan bawaan tunggal.Kelainan ini jarang sekali ditemukan pada anak premature atau disertai dengan kelainan bawaan lain (Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI, 1996). Behrman (1996) menyebutkan bahwa penyakit Hirschsprung mungkin dibarengi dengan cacat bawaan lain, termasuk Sindrom Down, Sindrom Laurence-Moon-barbe-Bieldi, sindrom Wardenbrug, dan kelainan kardiovaskuler.
Prognosis penyakit Hirschsprung yang diterapi dengan bedah umumnya memuaskan, sebagian besar penderita berhasil mengeluarkan feses (kontinensia). Masalah setelah pembedahan yang dapat ditemukan adalah enterokolitis berulang, striktur, prolapse, abses perianal, dan pengotoran feses.
Pembahasan ini mengajak anda untuk memahami asuhan keperawatan anak dengan Hirschprung. Kegiatan belajar ini dirancang agar anda lebih muda memahami asuhan keperawatan anak dengan Hischprung, sehingga dapat bermanfaat dalam situasi nyata.Paparan berikut ini menyuguhkan beberapa implikasi teoretis yang disertai hal-hal lain yang tetap terkait dengan Hischprung, sehingga anda dapat mempelajarinya secara mandiri. Setelah menyelesaikan ini, anda diharapkan mempunyai wawasan yang mantap mengenai apa yang dimaksud dengan asuhan keperawatan Hirschprung.












1.2     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah “HIRSCHSPRUNG” ini adalah sebagai berikut :
1.         Bagaimana anatomi dan fisiologi dari usus besar (kolon)?
2.         Apakah definisi dari Hirschsprung?
3.         Apa etiologi dari Hirschsprung ?
4.         Apa saja klasifikasi Hirschsprung?
5.         Apa saja tanda dan gejala Hirschsprung ?
6.         Bagaimana patofisiologi dari Hirschsprung ?
7.         Apa saja pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk Hirschsprung?
8.         Apa penatalaksanaan yang dapat diberikan pada pasien Hirschsprung?
9.         Apa pencegahan dari penyakit Hirschsprung?
10.     Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien Hirschsprung ?

1.3         Tujuan
Adapun tujuan dalam makalah “HIRSCHSPRUNG” ini adalah sebagai berikut :
1.         Untuk mengetahui anatomi dan fisiologi dari usus besar (kolon)
2.         Untuk mengetahui definisi Hirschsprung.
3.         Untuk mengetahui etiologi Hirschsprung.
4.         Untuk mengetahui klasifikasi Hirschsprung.
5.         Untuk mengetahui tanda dan gejala Hirschsprung.
6.         Untuk mengetahui patofisiologi Hirschsprung.
7.         Untuk mengetahui pemeriksaan Hirschsprung.
8.         Untuk mengetahui penatalaksanaan Hirschsprung.
9.         Untuk mengetahui pencegahan Hirschsprung.
10.     Untuk mengetahui askep pada Hirschprng.



BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1    Anatomi Fisiologi usus besar (kolon)
A.  Usus besar
Usus besar (intestinum mayor) merupakan saluran pencernaan berupa usus berpenampang luas atau berdiameter besar dengan panjang kira kira 1,5 – 1,7m dan penampang 5-6cm. Usus besar merupakan lanjutan dari usus halus yang tersusun seperti huruf u” terbalik mengelilingi usus halus  dari valvula ileosekalis sampai anus. (Syaifuddin, 2011)
            Lapisan usus besar dari dalam keluar :
1.      Lapisan selaput lendir (mukosa) : lapisan ini tidak memiliki vili, kripta kripta yang terdapat di dalam ±0,5 mm terletak berdekatan satu sama lain. Hampir seluruh permukaan epitel kripta mengkasilkan mukus pelumas. Epitel yang tinggal lainnya mempunyai tepi bersilia dari mikrovilli yang mengabsorbsi air.
2.      Lapisan otot melingkar (Muskulus sirkuler) : Lapisan ini berada di sebelah dalam dan berbentuk lingkaran.
3.      Lapisan otot memanjang (Muskulus longitudinal) : Lapisan otot ini berkumpul menjadi tiga pita panjang dengan lebar 1 cm yang disebut sebagai teniacoli. Lapisan ini terdiri dari tenia libra (di anterior), tenia omentalis (di posterior dan lateral) dan tenia mesacolia (di posterior dan medial)
4.      Lapisan jaringan ikat (serosa) : Lapisan ini merupakan  jaringan ikat kuat yang berada di sebelah luar. (Syaifuddin, 2009)
B.   Bagian dari usus besar
1.      Sekum : kantong lebar yang terletak pada fossa iliaka dekstra.  Ilimum memasuki fossa iliaka kiri ostium iliosekalis. Pada bagian bawah sekum terdapat apendiks vermiformis. Bentuknya seperti cacing yang disebut umbai cacing yang panjangnya ± 6cm. Muara apendiks pada sekum ditentukan oleh titik Mc Burney yaitu daerah antara 1/3 bagian kanan dan 1/3 bagian tengah garis yang menghubungkan kedua spina iliaka anterior superior (SIAS). Sekum seluruhnya ditutupi oleh peritoneum agar mudah bergerak walaupun tidak mempunyai mesenterium dan dapat diraba melalui dinding abdomen membentuk sebuah katup dinamakan valvula koli (valvula bauchini). Titik Mc Burney merupakan tempat proyeksi muara ileum kedalam sekum. Titik potong tepi lateral dengan garis penghubung (SIAS) kanan dengan pusat kira kira sama 1/3 lateral garis monro (garis menghubungkan SIAS dengan pusat). Pada waktu peradangan apendiks (apendisitis), daerah ini sangat sakit ditekan. kadang kadang apendiks perlu dibuang dengan operasi apendiktomi untuk menghilangkan infeksi.
2.      Kolon assendens : bagian yang memanjang dari sekum ke fossa iliaka kanan sampai ke sebelah kanan abdomen. panjangnya sekitar 13m terletak dibawah abdomen sebelah kanan dibawah hati ke sebelah kiri. Lengkungan ini disebut fleksura hepatica (flexura koli dekstra) dan dilanjutkan dengan kolon transversum
3.      Kolon transversum : panjangnya kira 38 cm, membujur dari kolon asendens sampai ke kolon desendens. Berada di bawah abdomen sebelah kanan tepat pada lekukan yang disebut fleksura lienalis (fleksura koli sinstra), mempunyai mesenterium melekat pada permukaan posterior, terdapat tirai disebut omentum mayus.
4.      Kolon desendes : panjangnya ±25m, terletak di bawah abdomen bagian kiri dari atas kebawah. Dari depan fleksura lienalis sampai di depan ileum kiri, bersambung dengan sigmoid dan dinding belakang peritoneum (retroperitoneal).
5.      Kolon sigmoid : Bagian ini merupakan lanjutan dari kolon desendens, terletak miring dalam rongga pelvis. Bagian ini Panjangnya 40cm  dalam rongga pelvis sebelah kiri, berbentuk huruf S. ujung bawahnya berhubungan dengan rectum, berakhir setinggi vertebrae sekralis 3 – 4. Kolon sigmoid ini di tunjang oleh mesenterium yang disebut mesokolon sigmoideum.
6.      Rektum : rektum ini merupakan lanjutan dari kolon sigmoid yang menghubungkan intestinum mayor dengan anus, panjangnya 12cm, dimuali dari pertengahan sakrum sampai kanalis anus. Rektum terletak dalam rongga pelvis di depan os sakrum dan os koksigis.
Rektum terdiri atas dua bagian yaitu ;
1)      Rektum propia : bagian yang melebar disebut ampula rekt, jika terisi sisa makanan akan timbul hasrat defekasi.
2)      Rektum analis rekti : sebelah bawah ditutupi oleh serat-serat otot polos (muskulus sfingter ani internus dan muskulus sfingter ani eksternus). Kedua otot ini berfungsi pada waktu defekasi. Tunika mukosa rektum banyak mengandung pembuluh darah, jaringan mukosa, dan jaringan otot yang membentuk lipatan disebut kolumna rektalis. Bagian bawah terdapat vena rektalis (hemoroidalis superior dan inferior) yang sering mengalami pelebaran atau varises yang disebut wasir (ambeyen).
7.      Anus : anus adalah saluran pendek yang panjangnya sekitar 3,8cm yang merupakan bagian dari saluran pencernaan yang berhubungan dengan dunia luar terletak di dasar pelvis, dinding nya diperkuat oleh sfingter ani yang terdiri atas ;
1)      Sfingter ani internus : terdiri atas otot polos yang bekerja dibawah sistem saraf otonom (tidak menurut kehendak).
2)      Sfingter levator ani : merupakan bagian tengah yang bekerja tidak menurut kehendak.
3)      Sfingter ani eksternus : dibentuk oleh otot rangka dan bekerja dibawah kendali volunter (bekerja menurut kehendak).
C.  Fungsi usus besar
1.      Menyerap air dan elektrolit, untuk kemudian sisa massa membentuk massa lembek yang disebut feses
2.      Menyimpan bahan feses. Sampai saat defekasi, feses ini terdiri dari sisa makanan, serat serat selulosa, sel sel epitel bakteri, bahan sisa sekresi (lambung, kelenjar intestine, hati, pancreas) magnesium fosfat dan Fe.
3.      Tempat tinggal bakteri koli. Sebagian dari kolon berhubungan dengan fungsi penernaan dan sebagaian lagi berhubungan dengan penyimpanan. Untuk kedua fungsi ini tidak diperlukan gerakan yang kuat dengan pergerakan yang lemah.
D.  Gerakan kolon
1.      Gerakan mencapur : pada tiap kontraksi kira kira 2,5 cm, otot sirkuler kolon mengerut kadang kadang dapat menyempitkan lumen dengan sempurna. Gabungan otot sirkuler dan longitudinal menyebabkan bagaian usus besar tidak terangsang mengembung keluar, dan merupakan kantong yang disebut haustration. Dalam waktu 30 detik, kontraksi haustral akan bergerak dengan lambat kearah anus. Beberapa menit kemudian timbul haustral kedua yang baru di dekat tempat semula tetapi tidak pada tempat yang sama. Dengan cara ini feses perlahan lahan didekatkan ke permukaan dan secara progresif akan terjadi penyerapan air.
2.      Gerakan mendorong : pada kolon terjadi gerakan yang disebut mass movement yaitu mendorong feses kearah anus. Gerakan ini timbul beberapa kali sehari, biasanya sesudah makan pagi. Pada mulanya, gerakan terjadi di bagian kolon yang terserang kemudian kolon distal tempat kontraksi panjangnya kira kira 20 cm, berkontraksi serentak sebagai satu kesatuan mendorong feses kebagian distal.
Mass movement :  dapat terjadi pada setiap bagian kolon transversum dan kolon dessendens apabiila sejumlah feses telah didorong ke dalam rectum timbul keinginan untuk defekasi.  Mass movement  yang sangat kuat akan mendorong feses melalui rectum dan anus untuk keluar. Hal ini terjadi karena kontraksi tonik yang terus menerus pada sfingter ani intrernus dan eksternus.
2.2    Definisi hisprung
Hirschprung (megakolon/aganglionic congenital) adalah anomali kongenital yang mengakibatkan obstruksi mekanik karena ketidakadekuatan motilitas sebagian usus. Hisprung merupakan keadaan tidak ada atau kecilnya sel saraf ganglion parasimpatik pada pleksus meinterikus dari kolon distalis. Daerah yang terkena dikenal sebagai segmen aganglionik (Sodikin, 2011)
Penyakit hisprung merupakan suatu kelainan kongenital yang disebabkan oleh obstruksi mekanis dari motilitas atau pergerakan bagian usus yang tidak adekuat.
Penyakit hisprung atau mega kolon adalah penyakit yang disebabkan oleh tidak adekuatnya motilitas pada usus sehingga tidak ada evakuasi usus spontan dan tidak mampunyai spinkter rektum berelaksasi.
Hisprung atau mega kolon adalah penyakit yang tidak adanya sel-sel ganglion dalam rektum atau bagian rektosigmoid kolon. Ketiadaan ini menimbulkan keabnormalan atau tidak adanya peristaltik serta tidak adanya evakuasi usus spontan. (Cecily Lynn Betz, 2009)
Penyakit hisprung atau mega kolon adalah kelainan bawaan penyebab gangguan pasase usus tersering pada neonatus dan kebanyakan terjadi pada bayi term dengan berat lahir ± 3kg, lebih banyak laki-laki dari pada perempuan.
Hirschsprung (megakolon atau aganglionik kongenital) adalah anomali kongenital yang mengakibatkan obstruksi mekanik karena ketidakadekuatan motilitas sebagian usus. Penyakit Hirschprung merupakan ketiadaan (atau, jika ada, kecil) saraf ganglion parasimpatik pada pleksus meinterikus kolon distal. Daerah yang terkena dikenal sebagai segmen aganglionik (Sodikin, 2011).
Penyakit ini merupakan keadaan usus besar (kolon) yang tidak mempunyai persarafan (aganglionik). Jadi, karena ada bagian dari usus besar (mulai dari anus kearah atas) yang tidak mempunyai persarafan (ganglion), maka terjadi “kelumpuhan” usus besar dalam menjalankan fungsinya sehingga usus menjadi membesar (megakolon). Panjang usus besar yang terkena berbeda-beda untuk setiap individu.
Penyakit Hisprung merupakan suatu kelainan bawaan berupa aganglionosis usus yang dimulai dari sfingter ani internal kearah proksimal dengan panjang yang bervariasi dan termasuk anus sampai rektum. Juga dikatakan sebagai suatu kelainan kongenital dimana tidak terdapatnya sel ganglion parasimpatis dari pleksus auerbach di kolon. Keadaan upnormal tersebut yang dapat menimbulkan tidak adanya peristaltik dan evakuasi usus secara spontan, sfingter rektum tidak dapat berileksasi, tidak mampu mencegah keluarnya feses secara spontan, kemudian dapat menyebabkan isi usus terdorong kebagian sekmen yang tidak ada ganglion dan akhirnya feses dapat terkumpul pada bagian tersebut sehingga dapat menyebabkan dilatasi usus proksimal (A.Aziz Alimul Hidayat, 2006).
2.3    Etiologi
1.      Penyebab penyakit hisprung belum diketahui. Namun, kemungkinan ada keterlibatan faktor genetik. Anak laki-laki lebih banyak terkena penyakit hisprung dibandingkan anak perempuan (4:1). (Sodikin, 2011)
2.      Mungkin karena kegagalan sel-sel krista naturalis untuk bermigrasi ke dalam dinding usus suatu bagian saluran cerna bagian bawah termasuk kolon dan rektum. Akibatnya tidak ada ganglion parasimpatis (aganglion) di daerah tersebut, sehingga menyebabkan peristaltik usus menghilang sehingga profulsi feses dalam lumen terlambat serta dapat menimbulkan terjadinya distensi dan penebalan dinding kolon di bagian proksimal  sehingga timbul gejala obstruktif usus akut, atau kronis tergantung panjang usus yang mengalami aganglion.
2.4    Klasifikasi
Hirschpung dibedakan berdasarkan panjang segmen yang terkena, hirschprung dibedakan menjadi dua tipe berikut :
1.      Segmen pendek
Segmen pendek aganglionosis mulai dari anus sampai sigmoid, merupakan 70% kasus penyakit Hirschprung dan lebih sering ditemukan pada anak laki-laki dibanding anak perempuan. Pada tipe segmen pendek yang umum, insidenya 5 kali lebih besar pada laki-laki dibanding wanita dan kesempatan bagi saudara laki-laki dari penderita anak untuk mengalami penyakit ini adalah 1 dalam 20.
2.      Segmen panjang
Daerah aganglionosis dapat melebihi sigmoid, bahkan kadang dapat menyerang seluruh kolon atau sampai usus halus. Anak laki-laki dan perempuan memiliki peluang yang sama, terjadi pada 1 dari 10 kasus tanpa membedakan jenis kelamin (Sodikin, 2011)
2.5    Tanda dan Gejala
Obstipasi (sembelit) merupakan tanda utama pada hirshprung, dan bayi baru lahir dapat merupakan gejala obstruksi akut. Bayi baru lahir tidak bisa mengeluarkan Mekonium dalam 24 – 28 jam pertama setelah lahir. Tampak malas mengkonsumsi cairan, muntah bercampur dengan cairan empedu dan distensi abdomen.
Tiga tanda (trias) yang sering ditemukan meliputi mekonium yang terlambat keluar (>24jam), perut kembung dan muntah berwarna hijau. Pada neonatus, kemungkinan ada riwayat keterlambatan keluarnya mekonium selama 3 hari atau bahkan lebih mungkin menandkan terdapat obstruksi rektum dengan distensi abdomen progresif dan muntah; sedangkan pada anak lebih besar kadang-kadang ditemukan keluhan adanya diare atau anterokolitis kronik yang lebih menonjol daripada tanda-tanda obstipasi.
Terjadinya diare yang berganti ganti dengan konstipasi merupakan hal yang tidak laim. Apabila disertai dengan komplikasi enterokolitis, anak akan mengeluarkan feses yang bear dan mengandung darah serta sangat bau, dan terdapat peristaltic dan bising usus yang nyata.
Sebagaian besar dapat ditemukan pada minggu pertama kehidupan, sedangkan yang lain ditemukan sebagai kasus konstipasi kronik dengan tingkat keparahan yang meningkat sesuai dengan pertumbuhan umur anak. pada anak yang lebih tua biasanya terdapat konstipasi kronik disertai anoreksia dan kegagalan pertumbuhan. (Sodikin, 2011)
Gejala Penyakit Hirshsprung adalah obstruksi usus letak rendah, bayi dengan Penyakit Hirshsprung dapat menunjukkan gejala klinis sebagai berikut. Obstruksi total saat lahir dengan muntah, distensi abdomen dan ketidakadaan evakuasi mekonium. Keterlambatan evakuasi mekonium diikuti obstruksi konstipasi, muntah dan dehidrasi. Gejala ringan berupa konstipasi selama beberapa minggu atau bulan yang diikuti dengan obstruksi usus akut. Konstipasi ringan entrokolitis dengan diare, distensi abdomen dan demam. Adanya feses yang menyemprot pada colok dubur merupakan tanda yang khas.
Gejala Penyakit Hirshprung menurut Cecily Lynn Betz, 2009 :
1.    Masa neonatal (baru lahir-11bulan)
a.    Gagal mengeluarkan mekonium dalam 24 - 48 jam setelah lahir
b.    Muntah berisi empedu
c.    Enggan minum (Menyusu)
d.   Distensi abdomen
2.    Masa Bayi dan anak - anak (1-3 tahun)
a.    Konstipasi
b.    Diare berulang
c.    Tinja seperti pita dan berbau busuk
d.   Distensi abdomen
e.    Adanya masa difecal dapat dipalpasi.
f.     Gagal tumbuh.
g.    Biasanya tampak kurang nutrisi dan anemia.
2.6    Patofisiologi
Istilah kongenital aganglion megakolon menggambarkan adanya kerusakan primer dengan tidak adanya sel ganglion pada dinding submukosa colon distal. Segmen aganglionik hampir selalu ada dalam rektum dan bagian proksimal pada usus besar. Ketidakadaan ini menimbulkan ke abnormalan atau tidak adanya gerakan tenaga pendorong (peristaltik) dan tidak adanya evakuasi usus konstan serta spinkter rektum tidak dapat berelaksasi sehingga mencegah keluarnya feses secara normal yang menyebabkan adanya akumulasi pada usus dan distensi pada saluran cerna. Bagian proksimal sampai pada bagian yang rusak pada megakolon. (Cecily Lynn Betz, 2009)
Semua ganglion pada intramural pleksus dalam usus berguna untuk kontrol kontraksi dan relaksasi peristaltik secara normal. Isi usus mendorong ke segmen aganglionik dan feses terkumpul didaerah tersebut menyebabkan terdilatasinya bagian usus yang proksimal terhadap daerah itu karena terjadi obstruksi dan menyebabkan dibagian kolon tersebut melebar.
­­­­

2.7    ­­­Pemeriksaan
1.      Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik pada masa neonatus biasanya tidak dapat menegakkan diagnosis, hanya memperlihatkan adanya distensi abdomen dan/atau spasme anus. Imperforata ani letak rendah dengan lubang perineal kemungkinan memiliki gambaran serupa dengan pasien Hirschsprung. Pemeriksaan fisik yang saksama dapat membedakan keduanya. Pada anak yang lebih besar, distensi abdomen yang disebabkan adanya ketidakmampuan melepaskan flatus jarang ditemukan Differensial.
2.      Pemeriksaan Colok Dubur
Pada penderita Hirschsprung, pemeriksaan colok anus sangat penting untuk dilakukan. Saat pemeriksaan ini, jari akan merasakan jepitan karena lumen rektum yang sempit, pada saat ditarik akan diikuti dengan keluarnya udara dan mekonium (Feses) yang menyemprot. (Sodikin, 2011)
3.      Pemeriksaan Laboratorium
a.    Kimia Darah : Pada kebanyakan pasien temuan elektrolit dan panel renal biasanya dalam batas normal. Anak dengan diare memiliki hasil yang sesuai dengan dehidrasi. Pemeriksaan ini dapat membantu mengarahkan pada penatalaksanaan cairan dan elektrolit
b.    Darah Rutin : Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui hematokrit dan platelet preoperatif.
c.    Profil Koagulasi : Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan tidak ada gangguan pembekuan darah yang perlu dikoreksi sebelum operasi dilakukan.
4.      Pemeriksaan Radiologi
a.    Foto polos abdomen tegak akan memperlihatkan usus-usus melebar atau terdapat gambaran obstruksi usus rendah.
b.    Dengan pemeriksaan Barium Enema akan ditemukan:
1)   Terdapat daerah transisi
2)   Gambaran kontraksi usus yang tidak teratur di bagian usus yang menyempit.
3)   Enterokolitis pada segmen yang melebar.
4)   Adanya penyumbatan pada kolon.
5)   Terdapat retensi barium setelah 24-48 jam (Padila, 2012)
5.      Pemeriksaan lain-lain
a.    Biopsi rektal dilakukan dengan anestesi umum, hal ini melibatkan diperolehnya sampel lapisan otot rektum untuk pemeriksaan adanya sel ganglion dari pleksus Aurbach (Biopsi) yang lebih superfisial untuk memperoleh mukosa dan submukosa bagi pemeriksaan pleksus meissner. (Sodikin, 2011)
b.    Biopsi otot rektum
Pengambilan otot rektum, dilakukan bersifat traumatik, menunjukan aganglionosis otot rektum. Caranya adalah dengan mengambil lapisan otot rektum, yang dilakukan di bawah narkose. (Ngastiyah, 2005)
c.    Biopsi isap, caranya adalah dengan mengambil mukosa dan submukosa dengan alat pengisap dan mencari sel ganglion pada daerah submukosa. (Ngastiyah,2005)
d.   Manometri anorektal merupakan uji dengan suatu balon yang ditempatkan dalam rektum dan dikembangkan. Secara normal, dikembangkannya balon akan menghambat sfingter ani interna. Efek inhibisi pada penyakit hirschsprung tidak ada dan jika balon berada di dalam usus aganglionik, dapat diidentifikasi gelombang rektal yang abnormal. Uji ini efektif dilakukan pada masa neonatus karena dapat diperoleh hasil baik positif palsu ataupun negatif palsu. (Sodikin,2011)
e.    Pemeriksaan aktivitas enzim Asetilkolin esterase dari hasil biopsi isap. bila ditemukan peningkatan aktivitas enzim asetilkolin enterase, maka berarti khas penyakit hirsprung. (Ngastiyah, 2005)
f.     Pemeriksaan aktivitas norepinefrin dari jaringan biopsi usus. (Ngastiyah, 2005)


2.8    Penatalaksanaan
1.    Penatalaksanaan terapeutik
Penatalaksanaan pembedahan bertujuan untuk :
a.    Memperbaiki bagian yang aganglionik diusus besar
b.    Membebaskan dari obstruksi
c.    Mengembalikan motilitas usus besar sehingga normal
d.   Mengembalikan fungsi spinkter ani internal
Penatalaksanaan pembedahan tersebut terdiri dari dua tahap yaitu:
a.       Ostomi/kolostomi sementara (temporaryostomy), yang dibuat dekat dengan segmen anganglionik yang bertujuan untuk melepaskan obstruksi dan secara normal melemah dan usus besar dilatasi untuk mengembalikan ke ukuran normal.
b.      Pembedahan koreksi atau perbaikan dilakukan kembali, biasanya pada waktu berat bayi atau anak telah mencapai 9kg atau sekitar setelah operasi pertama.
Beberapa prosedur pembedahan terhadap penyakit hirsprung adalah Swenson, Duhamel, Boley, dan Soave. Namun prosedur Soave adalah prosedur pembedahan untuk penyakit hirsprung yang paling sering digunakan. Prinsipnya yaitu dengan penarikan usus besar yang normal bagian akhir Diana mukosa anganglionik telah diubah.
a         Prosedur Duhamel :
Penarikan kolon normal kearah bawah dan menganastomosiskannyadibelakang usus aganglionik.
b        Prosedur Swenson :
Dilakukan anastomosis endtoend pada kolon berganglion dengan saluran anal yang dibatasi.
c         Prosedur soave :
Dinding otot dari segmen rektum dibiarkan tetap utuh. Kolon yang bersaraf normal ditarik sampai ke anus.


2.      Penatalaksanaan umum
Penatalaksanaan umum ini terutama ditujukan pada orang tua yang memiliki bayi dengan penyakit hirsprung, Dimana tindakan yang dilakukan sebagai bidan atau perawat adalah:
a.         Membantu orang tua untuk mengetahui adanya kelainan kongenital penyakit hirsprung pada bayinya secara dini.
b.         Membantu ikatan kasih sayang antara orang tua dan bayi (Bondingattechment)
c.         Mempersiapkan orang tua terhadap adanya tindakan pembedahan pada bayinya.
d.        Mengajarkan orang tua cara perawatan kolostomi yang benar.
e.         Memperhatikan status nutrisi bayinya
3.      Penatalaksanaan medis
Hanya dengan operasi. Bila belum dapat dilakukan operasi, biasaanya (merupakan tindakan sementara) dipasang pipa rektum, dengan atau tanpa dilakukan pembilasan dengan air garam fisiologis secara teratur. (Ngastiyah, 2005)
4.      Penatalaksanaan keperawatan
Masalah utama adalah terjadinya gangguan defekasi (obstipasi). Perawatan yang dilakukan adalah melakukan spuling dengan air garam fisiologis hangat setiap hari (bila ada persetujuan dokter) dan mempertahankan kesehatan pasien dengan memberi makanan yang cukup bergizi serta mencegah terjadinya infeksi. (Ngastiyah, 2005)
2.9    Pencegahan
Pencegahan penyakit hirscprung dapat dilakukan dengan memberikan makanan dan minuman yang mengandung nutrisi yang baik saat ibu hamil, tidak merokok dan minum alkohol, serta menjaga kondisi ibu dalam masa kehamilan.
1.      Pencegahan primer
Pencegahan primer pada penderita hirprung dapat dilakukan dengan cara:
a.       Health promotion
Penyakit hisprung merupakan penyakit yang disebabkan oleh pengaruh genetik tidak terlepas dari pola konsumsi serta asupan gizi dari ibu hamil sehingga ibu hamil kandungan menginjak usia tiga bulan disarankan berhati-hati terhadap obat-obatan, makanan yang diawetkan dan alkohol yang dapat memberikan pengaruh terhadap kelainan tersebut. Pada tahap helth promotion ini, sebagai pencegahan tingkat pertama (primary prevention) adalah perlunya perhatian terhadap pola konsumsi sejak dini terutama sejak masa awal kehamilan. Meghindari konsumsi makanan yang bersifat karsinogenik, mengikuti penyuluhan mengenai konsumsi gizi seimbang serta olah raga dan istirahat yang cukup.
b.      Spesific protection
Pada tahap ini pencegahan dilakukan walaupun belum dapat diketahui adanya kelainan maupun tanda-tanda yang berhubungan dengan penyakit hisprung. Pencegahan lebih mengarah pada perlindungan terhadap ancaman agent penyakit misalnya melakukan akses pelayanan Antenatal Care (ANC) terutama pada skrining ibu hamil berisiko tinggi, imunisasi ibu hamil, pemberian tablet tambahan darah dan pemeriksaan rutin sebagai upaya deteksi dini obstetric dengan komplikasi.
2.      Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder ditujukan guna mengetahui adanya penyakit hisprung dan menegkkan diagnosa sedini mungkin. Keterlambatan diagnosa dapat menyebabkan berbaga komplikasi yang merupakan penyebab kematian seperti enterokolitis, perforasi usus, dan sepsi. Berbagai teknologi tersedia untuk menegakkan diagnosis penyakit hisprung. Dengan melakukan anamnesis yang cermat, pemeriksaan fisik, pemeriksaan radiografik, serta pemeriksaan patologi anatomi biopsi isap rektum, dan pemeriksaan colok dubur.



3.      Pencegahan tersier
Pencegahan tersier lebih mengarah kepada perawatan pada pasien hisprung untuk penatalaksanaan perawatan yang dilakukan oleh tenaga medis yang profesional. agar tidak terjadi komplikasi lanjut.
Persiapan prabedah rutin antara lain lavase kolon, antibiotik, infus intravena, dan pemasangan tuba nasogastrik, sedangkan penatalaksanaan perawatan pascabedah terdiri atas perawatan luka, perawatan kolostomi, observasi terhadap distensi abdomen, fungsi kolostomi, peritonitis, ileus paralitik, dan peningkatan suhu.
Selain melakukan persiapan serta penatalaksanaan pascabedah, perawatan juga perlu memberikan dukungan pada orang tua, karena orang tua harus belajar bagaimana merawat anak dengan suatu kolostomi, dan bagaimana menggunakan kantung kolostomi.















BAB III
APLIKASI TEORI
3.1    Pengkajian
Penyakit ini sebagian besar ditemukan pada bayi cukup bulan dan merupakan kelainan tunggal. Jarang pada bayi prematur atau bersamaan dengan kelainan bawaan lain. Pada segmen aganglionosis dari anus sampai sigmoid lebih sering ditemukan pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan.  Sedangkan kelainan yang melebihi sigmoid bahkan seluruh kolon atau usus halus ditemukan sama banyak pada anak laki-laki dan perempuan (Ngastiyah, 1997).
1.      Informasi identitas/data dasar :
Nama, umur, jenis kelamin, agama, alamat, tanggal pengkajian, pemberi informasi.
2.      Keluhan utama :
Obstipasi merupakan tanda utama dan pada bayi baru lahir. Trias yang sering ditemukan adalah mekonium yang lambat keluar (lebih dari 24 jam setelah lahir), perut kembung dan muntah berwarna hijau. Gejala lain adalah muntah dan diare.
3.      Riwayat kesehatan sekarang :
Yang diperhatikan adanya keluhan mekonium keluar setelah 24 jam setelah lahir, distensi abdomen dan muntah hijau atau fekal. Tanyakan sudah berapa lama gejala dirasakan pasien dan tanyakan bagaimana upaya klien mengatasi masalah tersebut.
4.      Riwayat kesehatan masa lalu :
Apakah sebelumnya klien pernah melakukan operasi, riwayat kehamilan, persalinan dan kelahiran, riwayat alergi, imunisasi.
5.      Riwayat Nutrisi meliputi : masukan diet anak dan pola makan anak.
6.      Riwayat kesehatan keluarga :
Tanyakan pada orang tua apakah ada anggota keluarga yang lain yang menderita Hirschsprung.
7.      Riwayat tumbuh kembang :
Tanyakan sejak kapan, berapa lama klien merasakan sudah BAB.
8.      Riwayat kebiasaan sehari-hari :
kebutuhan nutrisi, istirahat dan aktifitas.
9.      Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan yang didapatkan sesuai dengan manifestasi klinis. Pada survey umum terlihat lemah atau gelisah. TTV biasa didapatkan hipertermi dan takikardidimana menandakan terjadinya iskemia usus dan gejala terjadinya perforasi. Tanda dehidrasi dan demam bisa didapatkan pada kondisi syok atau sepsis.
Pada pemeriksaan fisik focus pada area abdomen, lipatan paha, dan rectum akan didapatkan :
a.       Inspeksi :
Tanda khas didapatkan adanya distensi abnormal. Pemeriksaan rectum dan feses akan didapatkan adanya perubahan feses seperti berbau busuk.
b.      Auskultasi :
Pada fase awal didapatkan penurunan bising usus, dan berlanjut dengan hilangnya bising usus.
c.       Perkusi :
Timpani akibat abdominal mengalami kembung.
d.      Palpasi :
Teraba dilatasi kolon abdominal.
e.       Sistem integument :
Kebersihan kulit mulai dari kepala maupun tubuh, warna kulit, ada tidaknya edema kulit, dan elastisitas kulit.
f.       Sistem respirasi :
Kaji apakah ada kesulitan bernapas, frekuensi pernapasan
g.      Sistem kardiovaskuler :
Kaji adanya kelainan bunyi jantung (mur-mur, gallop), irama denyut nadi apikal, frekuensi denyut nadi / apikal.
h.      Sistem penglihatan :
Kaji adanya konjungtivitis, rinitis pada mata
i.        Sistem Gastrointestinal
Kaji pada bagian abdomen palpasi adanya nyeri, auskultasi bising usus, adanya kembung pada abdomen, adanya distensi abdomen, muntah (frekuensi dan karakteristik muntah).
j.        Pemeriksaan  Diagnostik
1)        Pemeriksaan Radiologi
a)    Foto polos abdomen tegak akan memperlihatkan usus-usus melebar atau terdapat gambaran obstruksi usus rendah.
b)   Barium Enema ditemukan:
-       Terdapat daerah transisi
-       Gambaran kontraksi usus yang tidak teratur di bagian usus yang menyempit.
-       Enterokolitis pada segmen yang melebar.
-       Ada penyumbatan pada kolon
-       Terdapat retensi barium setelah 24-48 jam
2)      Pemeriksaan colok dubur
Saat pemeriksaan ini, jari akan merasakan jepitan karena lumen rektum yang sempit, pada saat ditarik akan diikuti dengan keluarnya udara dan mekonium (Feses) yang menyemprot dan feses berbau busuk.
a)      biopsi isap
Ditemukan peningkatan aktivitas enzim asetilkolinenterase, merupakan tanda khas penyakit hirsprung.
b)     Biopsi rectal
Tidak terdapat sel-sel ganglion

3.2    Diagnosa
No.
Diagnosa Keperawatan
1.
Perubahan eliminasi (konstipasi) berhubungan dengan defek persyarafan anganglion.
2.
Resiko kurang volume cairan berhubungan dengan menurunya intake(mual, muntah)
3.
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan nafsu makan turun.
4.
Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan pasca operasi
5.
Injuri berhubungan dengan tindakan pasca operasi
6.
Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan (ATP menurun)

3.3    Intervensi
NO DX
Tujuan dan Kriteria hasil
Intervensi
Rasional
1.     
Tujuan : 
Pola BAB normal

Kriteria hasil:
-          Pola eliminasi dalam batas normal.
-          Warna feses dalam batas normal.
-          Feses lunak / lembut dan berbentuk.
-          Bau feses dalam batas normal (tidak menyengat).
-          Konstipasi tidak terjadi
1.    Lakukan enema atau irigasi rektum, sesuai program.




2.      Kaji bising usus dan abdomen anak setiap 4 jam. Laporkan penurunan atau tidak adanya bising usus.


3.      Ukur lingkar abdomen anak, sesuai program, dengan menggunakan titik referensi yang konsisten, dan pita pengukur yang sama setiap waktu.
1.      Evakuasi usus meningkat rasa nyaman anak dan mengurangi resik perforasi usus akibat obstruksi.

2.           Pengkajian yang demikian diperlukan untuk memastikan fungsi usus dengan benar dan terapi yang diberikan tepat.

3.      Pengukuran lingkar abdomen mendeteksi distensi.
2.     
Tujuan : Kebutuhan cairan terpenuhi

Kriteria hasil:
-          Keseimbangan intake dan output 24 jam.
-          Berat badan stabil.
-          Tidak ada mata cekung.
-          Kelembaban kulit dalam batas normal.
-          Membran mukosa lembab

1.      Timbang berat badan anak setiap hari, dan dengan cermat pantau asupan dan cairan.



2.      Beri cairan intravena sesuai program.




3.      Gunakan larutan salin atau antibiotik, ketika memberikan enema irigasi rektum. 
1.      Menimbang berat badan setiap hari dan pemantauan cermat terhadap asupan dan cairan mengindikasikan status cairan anak.

2.      Anak mungkin membutuhkan cairan intravena jika ia mengalami dehidrasi atau beresiko mengalami dehidrasi.
3.      Air dapat menyebabkan intoksikasi air akibat peningkatan permukaan absorptif bila terjadi asistensi abdomen. 
3.     
Tujuan :
Kebutuhan nutrisi tubuh dapat terpenuhi.
Kriteria hasil :
-BB pasien dalam batas normal atau idel.
-nafsu makan pasien bertambah.
-porsi makan pasien bertambah.
1.      Minimalkan faktor yang dapat menimbulkan tidak nafsu makan.


2.      Beri asupan makanan sesuai selera pasien.

3.      Beri makanan sedikit namun sering.


4.      Observasi BB pasien secara berkala.

1.      Dengan meminimalkan faktor yang dapat menimbulkan tidak nafsu makan dapat meningkatkan selera makan pasien.
2.      Dengan memberi asupan makanan sesuai selera dapat meningkatkan porsi makan pasien.
3.      Dengan memberi makan sedikit namun sering dapat memenuhi kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan tubuh.
4.      Observasi BB secara berkala untuk memantau kenaikan BB pasien.
4. 







Tujuan :
suhu dalam keadaan normal (36-37°C).
Kriteria hasil :
Suhu dalam rentang normal, tidak ada pathogen yang terlihat dalam kultur, luka dan insisi terlihat bersih, merah muda, dan bebas dari drainase purulen.
1.    Minimalkanrisiko infeksi pasien dengan :
a.       Mencuci tangan sebelum dan setelah memberikan perawatan
b.      Menggunakan sarung tangan untuk mempertahankan asepsis pada saat memberikan perawatan langsung

2.    Observasi suhu minimal setiap 4 jam dan catat pada kertas grafik. Laporkan evaluasi kerja.
1.    a. Mencuci tangan adalah cara terbaik untuk mencegah penularan pathogen.
b.Sarung tangan dapat melindungi tangan pada saat memegang luka yang dibalut atau melakukan berbagai tindakan.








2.      Suhu yang terus meningkat setelah pembedahan dapat merupakan tanda awitan komplikasi pulmonal, infeksi atau dehisens.

5.     
Tujuan :
Dalam waktu 2x24 jam pasca intervensi reseksi kolon pasien tidak mengalami injeri.
Kriteria hasil :
(RR :16-24x/menit, S: 36°C-37°C, N: 60-100, TD: 120/80 mmHg), kardiorespirasi optimal, tidak terjadi infeksi pada insisi.
1.      Observasi faktor-faktor yang mengingatkan resiko injuri.

2.      Monitor tanda dan gejala perforasi atau peritonitis











3.      Lakukan pemasangan selang nasogastrik


4.      Monitor adanya komplikasi pasca bedah








5.      Pertahankan status hemodinamik yang optimal



6.      Bantu ambulasi dini


7.      Hadirkan orang terdekat







8.      Kolaborasi pemberian antibiotic pasca bedah

1.   Pascabedah terdapat resiko rekuren dari hernia umbilikalis akibat peningkatan tekanan intra abdomen
2.   Perawat yang mengantisipasi resiko terjadinya perforasi. Yaitu  anak rewel tiba-tiba dan tidak bisa dibujuk atau diam oleh orangtua atau perawat, muntah-muntah, peningkatan suhu tubuh dan hilangnya bising usus. Adanya pengeluaran cairan feses bercampur darah pada anus.
3.   Apabila tindakan dekompresiini optimal, maka akan menurunkan distensi abdominal yang menjadi penyebab utama nyeri abdominal pada pasien hirschsprung.
4.   Perawat memonitor adanya komplikasi pascabedah seperti mencret atau ikontinensia fekal, kebocoran anastomosis,formasi striktur, obstruksi usus, dan enterokolitis. Secara kondisi
5.   Pasien akan mendapatkan cairan intravena sebagai pemeliharaan status hemodinamik
6.   Pasien dibantu turun dari tempat tidur pada hari pertama pascaoperatif dan didorong untuk mulai berpartisipasi dalam ambulasi dini.
7.   Pada anak menghadirkan orang terdekat dapat menpengaruhi penurunan respon nyeri. Sedangkan pada dewasa merupakan tambahan dukungan psikologis dalam menghadapi masalah kondisi nyeri baik akibat dari kolik abnomen atau nyeri pascabedah.
8.   Antibiotik menurunkan resiko infeksi yang akan menimbulkan reaksi inflamasi lokal dan dapat memperlama proses penyembuhan pascafunduplikasi lambung
6.     
Tujuan :
Pasien dapat melakukan aktivitas fisik yang paling sederhana.
Kriteria hasil :
-pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari (bermain).
-pasien tidak terlihat lemas.
-nadi dalam batas normal.
1.      Bantu pasien melakukan aktivitas dasar.

2.      Batasi aktivitas yang membutuhkan banyak energi.

3.      Beri pasien waktu istirahat yang cukup.

4.      Observasi nadi secara berkala.
1.       Dengan melakukan aktivitas fisik dasar dapat meningkatkan kekuatan otot.
2.      Dengan membatasi aktivitas dapat mengurangi kebutuhan energi.
3.      Waktu istirahat yang cukup dapat membuat tubuh terasa bugar.
4.      Observasi nadi secara berkala dapat mengetahui O2 dalam tubuh.


















BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN KASUS

Kasus :
Seorang anak M (pr) berusia 1 th dibawa ibunya ke rumah sakit pada tanggal 5 Juni 2015 dikarenakan perutnya kembung dan tidak bisa BAB sehingga perut anaknya membesar. Anaknya juga susah untuk makan. ibu mengatakan, anaknya baru bisa BAB jika diberi obat lewat dubur. Setelah mendapatkan pelayanan sudah tidak muntah dan sudah bisa BAB, jadi sudah sembuh, mestinya boleh pulang, ibu bingung karena dokter umum membolehkan pulang dan rawat jalan tapi dokter spesialis anak belum boleh karena sekalian mau di operasi.
4.1  Pengkajian
1.      Biodata
Data bayi
Nama               : By. M
Jenis kelamin   : perempuan
Tanggal Lahir : 19 Mei 2014
Tanggal MRS  : 05 Juni 2015
BB/PB             : 2900 g/ 54cm
Dx medis         : Hirsprung
Pengkajian       : 05 Juni 2015


Data Ibu
Nama               : Ny. K
Pekerjaan         : Tidak kerja
Pendidikan      : SLTA
Alamat                        : Kedinding Tengah SBY
Nama ayah      : Tn T
Pekerjaan         : PT PAL
Pendidikan      : SLTA
2.      Keluhan utama
Tidak bisa BAB sehingga perut anak besar sehingga tidak mau makan dan minum
3.      Riwayat penyakit sekarang
Kembung, pasien muntah setelah minum susu, muntah berupa susu yang diminum, muntah sejak 3 hari yang lalu.
4.      Riwayat penyakit sebelumnya
Lahir spontan ditolong dokter, langsung boleh pulang, tidak ada kelainan.
5.      Riwayat kesehatan keluarga
Tidak ada saudara yang sakit seperti ananknya
6.      Pemeriksaan fisik
a.       Tanda-tanda vital
b.      Tekanan darah       : 90/60 mmhg
c.       Denyut nadi          : 114/menit
d.      Suhu tubuh            : 36,5
e.       RR                         : 40/menit


7.      Pemeriksaan persistem
B1 (Breathing)    : normal
B2 (Blood)          : normal
B3 Brain              : normal
B4 Bladder          : normal
B5 Bowel            : kembung, bising usus 10x/ menit, muntah, peningkatan   
                               Nyeri abdomen
B6 Bone              : normal
8.      Data Tambahan :
a.      Radiologi :
1)      Torax foto (2-6-08)
2)      Cor : besar & bentuk kesan normal
Pulmo : tidak tampak infiltrat, sinus phrenicocostalis D.S tajam
Thymus : positif
Kesimpulan : foto torax tidak tampak kelainan
3)      Baby gram (2-6-08):
Dilatasi dan peningkatan gas usus halus dan usus besar.
4)      BOF (2-6-08)
Dilatasi dan peningkatan gas usus halus dan usus besar (menyokong gambaran Hirsprung Disease.
5)      Colon in loop (5-6-08):
Tampak pelebaran rectosigmoid
Tampak area aganglionik di rectum dengan jarak ± 1,5 cm dari anal dengan daerah   hipoganglionik diatasnya.
Tampak bagian sigmoid lebih besar dari rectum.
Kesimpulan : Sesuai gambaran Hirschprung Diseases
b. Laboratorium :
                Tanggal 2-6-08 :
                 Glukosa : 80 mg/dl     ( 70 -110)      WBC 7 × 103 /uL      (4,7-11,3)
     SC   :   0.5 mg/dl         ( 0.6-1,1 )      HGB 10,8 g/dl          (11,4-15,1)
                 BUN : 4 mg/dl            ( 5 - 23 )      RBC 3,33 × 106 /uL        (4 -5)
                 Albumin : 4,1 g/dl      ( 3,8 -5,4)        HCT 33,7 %               (38 - 42)
                 K  : 3,87 mmol/L      ( 3,6 - 5,5)       PLT 327 × 103       (142 - 424)
                 Na              : 137,8 mmol/L   (13 -155 ) 
                 Ca              : 10 mg/dl           (8,1 - 10,4)
                 Tanggal 9-6-2008:
CRP: negative (<6 mg/dl)
Glukosa: 80 mg/dl
              Analisa Data
No.
Data
Etiologi
Masalah
1.
DS :
Ibu mengatakan :
-Perut anaknya kembung dan sulit BAB
-Anaknya baru bisa BAB jika diberi obat lewat dubur.
DO :
Perut pasien terlihat kembung.
a. Lingkar abdomen 39 cm.
b. Bising usus 10×/mnt
Tidak dapat mengeluarkan feses

Konstipasi

2.
DS :
Ibu Mengatakan perut anaknya membesar dan sering menangis
DO :
-          iritabel (nyeri perut), peningkatan nyeri tekan abdomen)
-          Tampak distensi abdomen.
-          Lingkar abdomen 39 cm.
-          Suhu aksila 36,5°C
-          WBC 7×10 /uL
-          CRP < 6
Gejala terkait penyakit
Gangguan Rasa nyaman

3.









 

4.

DS :
Ibu mengatakan anaknya susah untuk makan
DO :
Terlihat lemas
Bibir pucat
Distensi Abdomen
BB : 8,8 gr
T : 7,4 cm
Kadar Albumin ;4,0-5,8 gr/dl
Hb ; 10-16 gr/dl
HCT ; 33-38%

DS : ibu mengatakan bingung dengan perkataan dokter
DO :
expresi wajahnya terihat cemas dan biingung

Kurang asupan makanan









Ancaman pada status terkini
Kesiapan peningkatan nutrisi










Ansietas



4.2  Diagnosa
1.      Konstipasi berhubungan dengan tidak dapat mengeluarkan feses yang di tandai dengan perut kembung, Lingkar abdomen 39 cm dan Bising usus 10×/mnt
2.      Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala terkait penyakit ditandai dengan perut membesar dan sering menangis
3.      Kesiapan peningkatan nutrisi berhubungan dengan Kurang asupan makanan ditandai dengan terlihat lemas dan bibir pucat.Intervensi
4.      Ansietas berhubungan dengan ancaman pada status terkini yang ditandai dengan expresi bingung
4.3  Intervensi
Konstipasi berhubungan dengan tidak dapat mengeluarkan feses yang di tandai dengan perut kembung, Lingkar abdomen 39 cm dan Bising usus 10×/mnt
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam Pasien memperlihatkan frekuensi kotoran yang dibuktikan oleh indikator sebagai berikut : (sebutkan 1-5: tidak adekuat, sedikit adekuat, cukup adekuat, adekuat, sangat adekuat)
Kriteria Hasil :
Bowel Continance
- konsistensi kotoran dengan skala 5 (tidak mengalami gangguan),
- jumlah kotoran (kembung) dengan skala 5 (tidak mengalami gangguan).

Intervensi
Rasional
Bowel Management

1.        Memonitoring perubahan frekuensi konsistensi bentuk volume dan warna isi perut.
2.        Memonitoring tanda dan gejala konstipasi.
3.        Memasukkan supositori ke rectal
4.        Memberitahuakan kepada ibu pasien untuk memberikan makanan tinggi serat

Impaction Management        
1.        Memonitoring Tanda dan gejala konstipasi
2.        Memonitor perubahan BAB mencakup frekuensi, Konsistensi, bentuk, dan warna.
3.        Memonitor isi perut
4.        Konsultasi dengan dokter sebuah kerusakan di frekuensi dari isi perut
5.        Memberi pelajaran kepada keluarga bagaimana makanan masuk
6.        Memonitor tanda dan gejala radang selaput perut
7.        Identifikasi faktor apa penyeba dari konstipasi
Bowel Management
1.      Memudahkan perawat dalam memantau perkembangan kondisi stres
2.      Memudahkan perawat dalam mengontrol tanda & gejala konstipasi
3.      Membantu mempelancarkan BAB
4.      Untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi pasien

Impaction Management
1        Memudahkan perawat dalam mengetahui tanda dan gejala konstipasi
2        Memudahkan perawat dalam memantau perubahan kondisi pasien
3        Memudahkan perawat dalam mengetahui kondisi isi   perut
4        Mengetahui kondisi pasien
5        Pemahaman yang cukup bagi keluarga bagimana makanan masuk
6        Untuk mempermudah mengetahui tanda dan gejala dari radang selaput perut
7        Untuk mengetahui faktor penyebab dari konstipasi

Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan Gejala terkait penyakit ditandai dengan perut membesar dan sering menangis
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam Pasien memperlihatkan Level nyeri yang dibuktikan oleh indikator sebagai berikut : (sebutkan 1-5: tidak adekuat, sedikit adekuat, cukup adekuat, adekuat, sangat adekuat)
Kriteria hasil :
Pain Level
-          Mengeluh dan menangis menunjukkan skala 5 tidak ada gangguan

Intervensi
Rasional
Pain Management
1      Pasien Bekerja sama dengan tenaga kesehatan untuk memilih dan menerapkan menggunakan obat ukuran pembebasan sakit.
2      Pasien disediakan obat untuk penghilang rasa sakit yang optimal dengan obat penghilang sakit yang ditentukan
3      Menerapkan penggunaan obat tanpa rasa sakit.
4    Kaji tingkat nyeri pasien, catat dan menginformasikan kepada tenaga kesehatan yang lain bekerjasama dengan pasien.
Pain Management
1.   Untuk mengetahui obat yang digunakan untuk meredekan nyeri
2.   Untuk Mengetahui bahwa obat-obatan ini yang di gunakan untuk pereda rasa nyeri
3.   Untuk meredakan rasa nyeri
4.   Agar mengetahui tingkat nyeri pasien.

Kesiapan peningkatan nutrisi berhubungan dengan Kurang asupan makanan ditandai dengan terlihat lemas dan bibir pucat.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam Pasien memperlihatkan Status Nutrisi: Makanan dan cairan yang masuk dibuktikan oleh indikator sebagai berikut : (sebutkan 1-5: tidak adekuat, sedikit adekuat, cukup adekuat, adekuat, sangat adekuat) ,
Kriteria hasil :
Nutritional : food and fluid intake
-          Makanan yang masuk melalui mulut Menunjukkan skala 5 (tidak mengalami gangguan)
-          Cairan yang masuk melalui mulut menunjukkan skala 5 (tidak mengalami gangguan)
Intervensi
Rasional
Infant Nutrition
1.    Instruksikan orang tua untuk memilihkan tiga makanan sehat
2.    Instruksikan orang tua untuk menghindari minuman buah dan membumbui susu
3.    Instruksikan orang tua untuk membolehkan memberi makanan pada anak
Weight Management
1.    Diskusikan dengan orang tua kondisi-kondisi yang medis yang boleh mempengaruhi berat/beban
2.    Tentukan keinginan individu untuk mengubah makan kebiasaan
3.    Dorong individu untuk mengkonsumsi sejumlah air cukup sehari-hari
4.    Membantu mengembangkan rencana makanan seimbang yang konsisten dengan kebutuhan tenaga
Infant Nutrition
1.   Anjurkan Ibu pasien untuk memberikan makanan sehat
2.   Agar tidak terjadi ketergantungan pada minuman
3.   Anjurkan Ibu pasien untuk memberikan makan

Weight Management
1      Pemahaman yang cukup bagi keluarga kondisi medis yang mempengaruhi berat/beban
2      Anjurkan ibu pasien untuk mengubah menu makanan
3      Kolaborasikan mengkonsumsi air setiap hari untuk memperlancarkan BAB.
4      Agar nutrisi dalam tubuh seimbang

Ansietas berhubungan dengan ancaman pada status terkini yang ditandai dengan expresei bingung

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam Pasien memperlihatkan Level Ansietas yang dibuktikan oleh indikator sebagai berikut : (sebutkan 1-5: tidak adekuat, sedikit adekuat, cukup adekuat, adekuat, sangat adekuat)
Kriteria Hasil :
Anxiety Level
- Serangan Panik menunjukkan skala 5 (tidak mengalami gangguan)
- Distress Menunjukkan skala 5 (tidak mengalami gangguan)


Intervensi
Rasional


Conseling
1.    membantu pasien untuk mengidentifikasi situasi atau masalah yang menyebabkan kesusahan
2.    menyediakan informasi berdasar fakta sebagaimana diperlukan dan sesuai
3.    mengungkapkan pengalaman diri sendiri untuk membantu perkembangan kepercayaan orang tua pasien bahwa tidak akan terjadi apa apa

Conseling
1      Memudahkan perawat dalam mengidentifikasi situasi atau masalah yang menyebabkan kesusahan
2      Memudahkan untuk mendapatkan informasi
3      Memberikan pemahaman bagi keluarga untuk membantu perkembangan kepercayaan orang tua pasien bahwa tidak akan terjadi apa apa






4.4  Implementasi

No. Dx
Tanggal/Jam
Tindakan Keperawatan
Nama dan Tanda tangan
I
05 Juni 2015
08.00 WIB
1.    Memeriksa perubahan frekuensi konsistensi bentuk volume dan warna isi perut.
R/frekuensi, konsistensi bentuk dan warna isi perut tampak kurang normal.
2.    Memasukkan supositoria ke rectal
R/pasien sudah bisa mengeluarkan feses sedikit
3.    Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian memakan makanan yang tinggi serat
R/ Pasien tidak mau memakan makanan yang tinggi serat.
4.    Memberitahuakan kepada ibu pasien untuk memberikan makanan tinggi serat
R/ sudah dilakukan



No. Dx
Tanggal/Jam
Tindakan Keperawatan
Nama dan Tanda tangan
2.
05 Juni 2015
10.00 WIB
1        Pasien Bekerja sama dengan tenaga kesehatan untuk memilih dan menerapkan menggunakan obat ukuran pembebasan sakit.
R/pasien bertanya pada tenaga medis
2        Pasien disediakan obat untuk penghilang rasa sakit yang optimal dengan obat penghilang sakit yang ditentukan
R/meminumkan kepada si anak
3        Menerapkan penggunaan obat tanpa rasa sakit.
R/nyeri berkurang
4        Kaji tingkat nyeri pasien, catat dan menginformasikan kepada tenaga kesehatan yang lain bekerjasama dengan pasien.
R/mengetahuitingka nyeri si anak














No. Dx
Tanggal/Jam
Tindakan Keperawatan
Nama dan Tanda tangan
3.
05 Juni 2015
14.00 WIB
1.      Kolaborasi dengan ahli gizi tentang makanan yang bergizi
R/ pasien tidak bermasalah dengan menu makanan
2.      Kaji tentang status gizi pasien
R/ ibu px kooperatif
3.      Memonitori kebutuhan nutrisi bayi yang diperlukan.
R/ px terlihat tercukupi kebutuhan nutrisi
4.      Mengobservasi input dan output.
R/


No. Dx
Tanggal/Jam
Tindakan Keperawatan
Nama dan Tanda tangan
4.
05 Juni 2015
16.00 WIB
1        Kaji penyebab ansietas ibu pasien
R/ ibu px mengutarakan kecemasannya
2        Berikan kesempatan ibu pasien untuk mengungkapkan perasaanya
R/ ibu px merasa lega setelah mengutarakan kecemasannya
3        Berikan motivasi kepada ibu pasien
R/ ibu px terlihat sedikit tenang
4        Anjurkan ibu pasien untuk berdo’a
R/ ibu px melaksanakannya



4.5  Evaluasi
No. Dx
Tanggal/jam
Evaluasi
1.
09 Juni 2015/ 08.00 WIB
S : Ibu pasien mengatakan anaknya bisa mengeluarkan sedikit feses
O : - Kondisi px sedikit membaik dari sebelumyna
A :  Masalah Teratasi sebagian
P : Intervensi 1 dan 3 dilanjutkan
I : Memeriksa perubahan frekuensi konsistensi bentuk volume dan warna isi perut, Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian memakan makanan yang tinggi serat kembali
E : Frekuensi Konsistensi bentuk dan warna feses tampak lebih normal, pasien mulai mau memakan makanan yang tinggi serat
R : Intervensi 1 di modifiasi ulang
                                                                                                                         
No. Dx
Tanggal/jam
Evaluasi
2.
09 Juni 2015/ 10.00 WIB
S : Ibu pasien mengatakan nyeri perut berkurang
O : Anak sudah jarang menangis
A :  Masalah Teratasi sebagian
P : Intervensi 2 dan 3 dilanjutkan
I : Menganjurkan pasien untuk melakukan istirahat, dan mengalihkan rasa nyeri si pasien kembali
E : Anak sudah bisa beistirahat dengan tenang dan anak sudah tidak menangis lagi.
R : Masalah teratasi, Intervensi di hentikan

No. Dx
Tanggal/jam
Evaluasi
3.
09 Juni 2015/ 14.00 WIB
S : Ibu pasien mengatakan nafsu makan anaknya meningakat
O : Anak doyan makan
      Berat badan meningkat
      Sudah tidak terlihat lemas dan pucat
A :  Masalah Teratasi
P : Intervensi dihentikan


No. Dx
Tanggal/jam
Evaluasi
4.
09 Juni 2015/ 16.00 WIB
S : Ibu pasien mengatakan sudah lebih baik dan lebih mengerti
O : wajah ibu pasien terlihat tenang
A :  Masalah Teratasi
P : Intervensi dihentikan
BAB V
PEMBAHASAN

Saluran pencernaan dimulai dari mulut, gigi, lidah, lambung, usus (usus halus/intestinum tenue dan usus besar/kolon) sampai ke dubur atau anus. Sistem pencernaan adalah organ yang seringkali mudah terkena gangguan sehingga timbul berbagai masalah penyakit pencernaan.
Usus besar atau kolon merupakan organ saluran pencernaan setelah usus halus. Fungsi utama usus besar adalah penyerapan air dan elektrolit sekaligus tempat pembusukan makanan yang dibantu oleh bakteri Escherichia coli yang nantinya menjadi feses. Sertabertugas untuk mengatur kandungan air pada fese sehingga feses tidak cair dan tidak padat dan mudah untuk diekresi. Feses yang tidak dikeluarkan atau yang tidak dapat dikreluarkan akan mengakibatkan penimbunan di usus yang jika dibiarkan lama akan mengakibatkan inflamasi usus atau infeksi usus. Karena bahan sisa yang sudah tidak dibutuhkan tubuh seharusnya dikeluarkan tidak dikeluarkan dapat mengakibatkan pertumbuhan bakteri di usus yang nantinya timbul gangguan atau masalah kesehatan sistem pencernaan.
Kelainan Hirschsprung terjadi karena adanya permasalahan pada persarafan usus besar paling bawah, mulai anus hingga usus di atasnya. Syaraf yang berguna untuk membuat usus bergerak melebar menyempit biasanya tidak ada sama sekali atau jikapun ada itu hanya sedikit sekali. Namun yang jelas kelainan ini akan membuat BAB bayi tidak normal, bahkan cenderung sembelit terus menerus. Hal ini dikarenakan tidak adanya syaraf yang dapat mendorong kotoran keluar dari anus. Kotoran akan menumpuk di bagian bawah, sehingga menyebabkan pembesaran pada usus dan juga kotoran menjadi keras sehingga bayi tidak dapat BAB. Pada neonatus, perut kembung dan muntah berwarna hijau dan kemungkinan ada riwayat keterlambatan keluarnya mekonium selama 3 hari atau bahkan lebih mungkin menandakan terdapat obstruksi rektum dengan distensi abdomen progresif dan muntah; sedangkan pada anak lebih besar kadang-kadang ditemukan keluhan adanya diare atau anterokolitis kronik yang lebih menonjol daripada tanda-tanda obstipasi. Penyebabnya karena kegagalan sel-sel krista naturalis untuk bermigrasi ke dalam dinding suatu bagian saluran cerna bagian bawahsehingga profulsi feses dalam lumen terlambat.
Diagnosa keperawatan yang muncul adalah Perubahan eliminasi (konstipasi) berhubungan dengan defek persyarafanan ganglion, Resiko kurang volume cairan berhubungan dengan menurunya intake (mual, muntah), Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan nafsu makan turun, Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan pasca bedah, injuri berhubungan dengan tindakan pasca operasi, Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan (ATP menurun). Pada kasus penyakit ini kami membuat rencana tindakan yang diantaranya bertujuan agar pola BAB bayi kembali normal, kebutuhan nutrisi tubuh dapat terpenuhi. Mengingat pada penyakit ini penderita mengalami kelainan yang membuat BAB bayi tidak normal.
Agar bayi dapat BAB secara normal bisa dilakukan tindakan pembedahan seperti segera dilakukan tindakankolostomi sementara. Kolostomi adalah pembuatan lubang pada dinding perut yang disambungkan dengan ujung usus besar. Pengangkatan bagian usus yang terkena dan penyambungan kembali usus besar biasanya dilakukan pada saat anak berusia 6 bulan atau lebih. Jika terjadi perforasi (perlubangan usus) atau enterokolitis, diberikan antibiotik.
Bagian usus yang tak ada persarafannya ini harus dibuang lewat operasi. Operasi biasanya dilakukan dua kali. Pertama, dibuang usus yang tak ada persarafannya. Kedua, kalau usus bisa ditarik ke bawah, langsung disambung ke anus. Kalau ternyata ususnya belum bisa ditarik, maka dilakukan operasi ke dinding perut, yang disebut dengan kolostomi, yaitu dibuat lubang ke dinding perut. Jadi bayi akan BAB lewat lubang tersebut. Nanti kalau ususnya sudah cukup panjang, bisa dioperasi lagi untuk diturunkan dan disambung langsung ke anus. Sayang sekali kadang proses ini cukup memakan waktu lebih dari 3 bulan, bahkan mungkin hingga 6-12 bulan. Setelah operasi biasanya BAB bayi akan normal kembali, kecuali kasus tertentu misal karena kondisi yang sudah terlalu parah.
Untuk itu maka orang tua perlu memperhatikan kondisi bayinya dan melakukan pertimbangan-pertimbangan agar bayi segera tertagani dan tidak semakin parah kondisinya. Jangan sampai orang tua membiarkan hal ini sehingga perut bayi lama kelamaan semakin membesar sehingga ususnyapun menjadi semakin lebar, sedangkan di bagian bawah kecil sekali karena, jika hal tersebut dibiarkan dikhawatirkan nantinya akan terjadi komplikasi.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menangani kolostomi, antara lain :
1.      Perawatan Kulit
Pasien dianjurkan melindungi kulit peristoma dengan sering mencuci area tersebut menggunakan sabun ringan, memberikan barrier kulit protektif disekitar stoma, dan mengamankannya dengan meletakkan kantung drainase.Kulit dibersihkan dengan perlahan menggunakan sabun ringan dan waslap lembab serta lembut.Adanya kelebihan barrier kulit dibersihkan.Sabun bertindak sebagai agen abrasive ringan untuk mengangkat residu enzim dari tetesan fekal.Selama kulit dibersihkan, kasa dapat digunakan untuk menutupi stoma.
2.      Pemasangan kantung
Kulit dibersihkan terlebih dahulu.Barierr kulit peristoma dipasang. Kemudian kantung dipasang dengan cara membuka kertas perekat dan menekannya di atas stoma. Iritasi kulit ringan memerlukan tebaran bedak stomahesive sebelum kantung diletakkan.
3.      Memasang alat drainase
Alat drainase diganti bila isinya telah mencapai 1/3-1/4 sehingga berat isinya tidak menyebabkan kantung lepas dari diskus perekatnya dan keluar isinya.Tekanan perlahan mencegah kulit dari trauma dan mencegah adanya isi fekal yang tercecer keluar.
4.      Mengirigasi Kolostomi
Tujuan pengirigasian kolostomi adalah untuk mengosongkan kolondari gas, mucus, dan feses.Sehingga pasien dapat menjalankan aktivitas tanpa rasa takut terjadi drainase fekal.
BAB VI
PENUTUP

6.1    KESIMPULAN
Hirschsprung atau mega kolon adalah penyakit yang disebabkan oleh tidak adekuatnya motilitas pada usus sehingga tidak ada evakuasi usus spontan dan tidak mampunya spinkter rektum berelaksasi. Kelainan Hirschsprung terjadi karena adanya permasalahan pada persarafan usus besar paling bawah, mulai anus hingga usus di atasnya. Biasanya bayi akan bisa BAB karena adanya tekanan dari makanan setelah daya tampung di usus penuh. Tetapi pada hirschsprung ini tidak baik bagi usus bayi. Penumpukan yang terjadi berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan akan menimbulkan pembusukan yang lama kelamaan dapat menyebabkan adanya radang usus hingga kanker usus.
Menurut beberapa teori penyebab penyakit ini belum diketahui, namun ada juga beberapa teori menjelaskan penyebabnya. Maka, di karenakan penyakit ini kebanyakan menyerang neonatus, pada saat ibu hamil harus mengonsumsimakanan dan minuman yang mengandung nutrisi serta menjaga kondisi ibu selama masa kehamilan.
Pemeriksaan dapat dilakukan dengan pemeriksaan radiologi dan pemeriksaan foto abdomen tegak. Pengobatan dapat dilakukan dengan pembedahan seperti kolostomi, biopsi otot rektum, dan barium enema. Pencehan pada penyakit hisprung diutamakan pada pencegahan primer yaitu lebih ditujukan kepada ibu pada masa kehamilan. ibu hamil yang kandungannya menginjak usia tiga bulan disarankan berhati-hati terhadap obat-obatab, makanan yang diawetkan dan alkohol yang dapat memberikan pengaruh terhadap kelainan tersebut. Pada tahap helth promotion ini, sebagai pencegahan tingkat pertama (primary prevention) adalah perlunya perhatian terhadap pola konsumsi sejak dini terutama sejak masa awal kehamilan. Meghindari konsumsi makanan yang bersifat karsinogenik, mengikuti penyuluhan mengenai konsumsi gizi seimbang serta olah raga dan istirahat yang cukup.

6.2    SARAN
Dengan terbentuknya makalah tentang hirschsprung dan asuhan keperawatan ini diharapkan kepada para pembaca mampu untuk memahami dan mempelajari materi ini dengan baik.

























DAFTAR PUSTAKA

Herdman, T.Heather. 2012. Diagnosa Keperawatan dengan Definisi dan Klasifikasi 2012-2014. Jakarta : EGC.
Maryunani Anik. 2009. Asuhan Kegawatdaruratan dan Penyulit pada Neonatus. Jakarta: TIM.
Maryanti Dwi. 2011. Buku Ajar Neonatus, Bayi dan Balita. Jakarta : Trans Info Media.
Rukhiyah Yeyeh Ani. 2012. Asuhan Neonatus, Bayi, dan Anak Balit. Jakarta: Trans Info Media.
Sodikin. 2012.Keperawatan Anak;Gangguan Pencernaan. Jakarta : EGC.
Sodikin. 2011. Asuhan Keperawatan Anak: Gangguan Sistem Gastrointestinal & Hepatobilier. Jakarta : Salemba Medika
Speer, Kathleen Morgan. 2008. Rencana Asuhan Keperawatan Pediatrik dengan Clinikal Pathways. Jakarta: EGC.
Taylor, Cynthia. M dan Ralph, Sheila, Aparks. 2013. Diagnosa Keperawatan: Dengan Rencana Asuhan Keeprawatan, Edisi 10. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Wilkinson, Judith M. 2011. Buku Saku Diagnosis NANDA, Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC. Ed. 9. Jakarta: EGC.
Cornain, Santoso. 2013. Buku Ajar Patologi Robbins. Singapura : Elsevier.
Hidayat A.Aziz Alimul. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta :
Salemba Medika
Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC